Wajah Baru Museum Rajekwesi Bojonegoro: Destinasi Wisata Edukasi Modern dari Era Laut Purba hingga Warisan Nusantara

Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian sejarah dan kebudayaan daerah. Bertepatan dengan puncak peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 pada bulan Oktober 2025 lalu, wajah baru Museum Rajekwesi resmi dibuka untuk masyarakat umum. Kini, museum tidak lagi terkesan kuno, melainkan disulap menjadi ruang edukasi interaktif dan modern yang ramah bagi lintas generasi.

Bagi warga lokal, Museum Rajekwesi sebenarnya bukanlah hal yang seratus persen baru. Museum ini pertama kali didirikan pada tahun 1992 di area Kantor Dinas Pendidikan, tepatnya di Desa Sukowati, Kecamatan Kapas. Namun, demi optimalisasi wisata edukasi, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui momentum “Boyong Museum” merelokasinya ke tempat yang jauh lebih strategis, yakni di Jalan Pahlawan (tepat di sebelah selatan Alun-Alun Bojonegoro).

Menjelajah Lorong Waktu di Ruang Tematik Modern Dikelola langsung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro, Museum Rajekwesi versi terbaru ini menghadirkan konsep storytelling (bercerita) melalui pembagian berbagai ruang tematik.

Saat melangkah masuk, pengunjung langsung diajak kembali ke masa jutaan tahun lalu di Ruang Prasejarah. Sedikit yang tahu bahwa daratan Bojonegoro dahulunya adalah kawasan laut dangkal. Hal ini dibuktikan kuat dengan ragam fosil laut yang dipamerkan, mulai dari fosil gigi hiu purba, cangkang kerang raksasa, hingga patahan fosil tulang gajah kuno.

Perjalanan sejarah kemudian berlanjut ke Ruang Hindu-Buddha. Di zona ini, bintang utamanya adalah replika Prasasti Adan-Adan, sebuah artefak penting yang mengungkap sistem peradaban pemerintahan masa lampau di sekitar tanah Jawa.

Tak hanya sejarah kuno, museum juga merekam jejak agraris masyarakat lewat Ruang Pertanian yang menampilkan aneka perkakas agraris tradisional seperti pacul tua dan ani-ani (alat pemotong padi). Di ujung tur, pengunjung akan dimanjakan dengan Ruang Kesenian dan Ruang Imersif (Immersive Room)—sebuah fasilitas visual interaktif kekinian yang memproyeksikan sejarah Bojonegoro menjadi pengalaman audio-visual yang mengagumkan.

Bukan Sekadar Tempat Penyimpanan Barang Tua Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, menegaskan bahwa kehadiran kemasan baru Museum Rajekwesi ini adalah bentuk adaptasi pemerintah untuk mengajak milenial dan Gen Z mau mencintai sejarah.

“Museum bukan sekadar tempat penyimpanan benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi cermin bagi generasi muda. Di sini kita belajar dan mengenal rentetan budaya yang menginspirasi serta membentuk Bojonegoro hingga ke depan nanti,” ungkap Bupati Setyo Wahono saat meresmikan peluncuran museum beberapa waktu lalu.

Senada dengan hal tersebut, pihak Disbudpar juga mengimbau masyarakat yang suatu saat menemukan benda peninggalan bersejarah seperti pecahan stupa atau fosil agar tak ragu menitipkannya ke museum untuk dirawat dan digali sisi akademisnya oleh para pakar.

Informasi Operasional Museum Rajekwesi Bagi masyarakat yang ingin berwisata sambil belajar, Museum Rajekwesi Bojonegoro sangat mudah diakses.

  • Lokasi: Jl. Pahlawan, Kabupaten Bojonegoro (Selatan Alun-Alun Kota)
  • Jam Operasional: Buka setiap hari Senin hingga Jumat, pukul 08.00 – 16.00 WIB.
  • Harga Tiket Masuk (HTM): Gratis tanpa dipungut biaya (untuk sementara waktu).

Dengan fasilitas komplit yang Instagramable namun kental akan nilai akademis, Museum Rajekwesi Bojonegoro adalah jawaban sempurna bagi wisatawan maupun pelajar yang ingin mendalami jejak autentik Nusantara di Bumi Angling Dharma.